jihadisngapak on Instagram

JihadIS Ngapak

🔖 Yuk Hijrah 🔖 Info Grafis Tentang Islam & Informasi Umum . Aktifkan Notifikasi Kiriman, Klik Pojok Kanan Atas ↗ . Follow ➡ @santringapak_id .

https://m.youtube.com/channel/UC3yNX2JKupik_uofCvb10qQ Similar users See full size profile picture

Report inappropriate content

@jihadisngapak photos and videos

Setiap anak yang lahir memiliki hak untuk dilindungi secara hukum. Dengan status hukum yang jelas, anak ini dapat meraih hak-hak lainnya sebagai warga negara yang sama di depan hukum. . Adapun perihal status perwalian, nasab, nafkah, dan hak waris anak di luar nikah, para ulama berbeda pendapat. Masalah ini juga diangkat dalam forum Munas Alim Ulama NU di Lombok pada akhir tahun 2017. . Peserta Munas Alim Ulama NU di Lombok 2017 mengartikan anak di luar nikah sebagai anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan di luar ikatan perkawinan yang sah menurut hukum dan agama. . Peserta Munas Alim Ulama NU mengikuti tafshil dalam rumusan hukum fikih mengenai masalah ini. Pertama, jika perempuan yang hamil karena dinikahi secara syar’i yakni dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syarat dan rukunnya, maka berlaku hukum nasab, wali, waris, dan nafkah. . Kedua, jika perempuan yang hamil itu tidak dinikahi secara syar’i, maka ada tafsil (rinci): . (1) Jika anak (janin) tersebut lahir pada saat ibunya belum dinikahi siapapun, maka anak itu bernasab kepada ibunya saja; . (2) jika anak tersebut lahir setelah ibunya dinikahi baik oleh ayah biologisnya atau orang lain, di sini ada tafsil: (a) jika (janin) lahir lebih dari 6 bulan (dari akad nikah), maka nasab anak itu jatuh kepada suami ibunya. Tetapi (b) jika lahir kurang dari 6 bulan (akad nikah), maka anak itu tidak bisa bernasab kepada suami ibunya. . Mereka mengutip salah satunya keterangan Al-Mawardi yang mengangkat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih (Lihat Abul Hasan Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1994 M/1414 H], cetakan pertama, juz VIII, halaman 162). . Sebagaimana diketahui bahwa MK memutuskan, “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.” . Peserta Munas NU 2017 memandang bahwa putusan MK tidak sepenuhnya bertentangan dengan rumusan hukum fikih.

0

Udah weekend nih...? ,😂😂😉 Masih jomblo? . Gak usah galau. Jodoh adalah salah satu misteri dalam hidup. Tidak seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa ia berjodoh. Terkadang, ada orang yang baru ketemu beberapa saat, tiba-tiba langsung berjodoh. Namun, ada pula yang sudah berusaha ke sana kemari mencari jodohnya, tetapi selalu saja gagal. Entah itu karena ditolak cintanya, laramannya, diputuskan hubungan asmaranya atau karena sebab lain. Nah, bagi anda yang masih jomblo, sering-seringlah memanjatkan doa ini . @jihadisngapak @santringapak_id @santrimbeling_id @ansorpurwokerto @nushu.purwokerto @banserpurwokerto @denwataernusantara @banserpurwokertoutara @banserpurwokertotimur @banserpurwokertobarat @banserpurwokertoselatan #nu #pbnu #nahdlatuloelama #nahdlatululama #ulama #ulamanusantara #ulamaindonesia #santri #santrinusantara #santriindonesia #islam #islamdamai #islamnusantara #islamindonesia #aswajaannahdliyah #ahlussunnahwaljamaahannahdliyah #hubbulwathonminaliman #ansor #banser #fatser #denwatser #nahdliyin #banserpurwokerto #ansorpurwokerto #denwatsernusantara #jihadisngapak

1

Dari Aisyah berkata: Aku pernah menemani Nabi SAW dalam sebuah perjalanan. Saat itu aku masih muda dan badanku belum gemuk. Nabi SAW berkata kepada para sahabat: Silahkan jalan duluan. Maka para sahabat pun berjalan mendahului Nabi SAW. Lalu Nabi SAW berkata kepadaku: Kemarilah, aku akan mengajakmu balap lari. Maka aku pun memenuhi ajakan tersebut, kemudian aku berhasil mengalahkan Nabi SAW, dan beliau pun terdiam saat itu. Sampai pada suatu ketika badanku sudah mulai gemuk, dan aku pun lupa entah dalam perjalanan kemana saat itu. Beliau berkata kepada para sahabat: Silahkan jalan duluan. Maka para sahabat pun berjalan mendahului Nabi SAW. Lalu beliau berkata: Kemarilah, aku akan kembali mengajakmu balap lari. Maka aku pun memenuhi ajakan tersebut, kemudian beliau mampu mengalahkanku. Beliau tertawa dan berkata: Inilah pembalasanku. (HR. Ahmad) . Romantis Banget Ya Nabi SAW Balap Lari dengan Aisyah Al-Quran menegaskan bahwa Nabi SAW adalah manusia biasa. Hanya saja, ia diberi wahyu oleh Allah SWT (QS. Al-Kahfi: 110). Sebagai seorang manusia, tentu ada sisi kemanusian yang dapat dilihat dalam diri Nabi SAW. Dari kisah di atas, dapat dipahami sisi romantisme Nabi yang menunjukkan bukti kasih sayangnya terhadap sang istri. Beliau tak membatasi diri untuk bercanda sebagaimana umumnya manusia biasa selagi dalam batas yang wajar . @jihadisngapak @santringapak_id @santrimbeling_id @ansorpurwokerto @nushu.purwokerto @banserpurwokerto @denwataernusantara @banserpurwokertoutara @banserpurwokertotimur @banserpurwokertobarat @banserpurwokertoselatan #nu #pbnu #nahdlatuloelama #nahdlatululama #ulama #ulamanusantara #ulamaindonesia #santri #santrinusantara #santriindonesia #islam #islamdamai #islamnusantara #islamindonesia #aswajaannahdliyah #ahlussunnahwaljamaahannahdliyah #hubbulwathonminaliman #ansor #banser #fatser #denwatser #nahdliyin #banserpurwokerto #ansorpurwokerto #denwatsernusantara #jihadisngapak

0

Sudah siap melamar si dia? Minggu depan aja ya? Jumat pagi. Sekarang udah sore Melamar tunangan untuk dinikahi dalam Islam disebut khitbah. Sebelum seorang pria menikahi seorang perempuan, dia dianjurkan melamarnya terlebih dahulu. Namun sebelum itu, dia dianjurkan melakukan shalat Istikharah untuk minta petunjuk kepada Allah agar calon yang hendak dilamar menjadi pasangan yang baik dunia akhirat Dalam kitab Al-Fawakih Al-Duwani, Imam Al-Nafrawi menganjurkan untuk melamar perempuan di hari Jumat karena dinilai sbg hari terbaik dan sangat baik untuk melakukan khitbah, sebagaimana juga terbaik untuk akad nikah Dianjurkan untuk dilaksanakan di pagi hari. Ini merupakan waktu yang mendapatkan doa keberkahan dari Nabi saw . @jihadisngapak @santringapak_id @santrimbeling_id @ansorpurwokerto @nushu.purwokerto @banserpurwokerto @denwataernusantara @banserpurwokertoutara @banserpurwokertotimur @banserpurwokertobarat @banserpurwokertoselatan #nu #pbnu #nahdlatuloelama #nahdlatululama #ulama #ulamanusantara #ulamaindonesia #santri #santrinusantara #santriindonesia #islam #islamdamai #islamnusantara #islamindonesia #aswajaannahdliyah #ahlussunnahwaljamaahannahdliyah #hubbulwathonminaliman #ansor #banser #fatser #denwatser #nahdliyin #banserpurwokerto #ansorpurwokerto #denwatsernusantara #jihadisngapak

1

Karena termasuk ibadah, para ulama menganjurkan agar akad nikah dilangsungkan di dalam masjid. Masjid adalah sebaik-baik tempat untuk melangsungkan akad nikah dibanding lainnya. Ibnu Hammam dalam kitab Fathul Qodir berkata; “Disunahkan melangsungkan akad nikah di dalam masjid, karena hal itu adalah ibadah, dan diselenggarakan di hari Jumat.” . Lalu bagaimana dengan mengadakan pesta pernikahan di masjid Mengadakan pesta pernikahan di masjid? . @jihadisngapak @santringapak_id @santrimbeling_id @ansorpurwokerto @nushu.purwokerto @banserpurwokerto @denwataernusantara @banserpurwokertoutara @banserpurwokertotimur @banserpurwokertobarat @banserpurwokertoselatan #nu #pbnu #nahdlatuloelama #nahdlatululama #ulama #ulamanusantara #ulamaindonesia #santri #santrinusantara #santriindonesia #islam #islamdamai #islamnusantara #islamindonesia #aswajaannahdliyah #ahlussunnahwaljamaahannahdliyah #hubbulwathonminaliman #ansor #banser #fatser #denwatser #nahdliyin #banserpurwokerto #ansorpurwokerto #denwatsernusantara #jihadisngapak

1

Dalam pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah, Rasulullah saw. telah memberikan tuntunan, pandangan, dan wejangan mengenai pernikahan. Setidaknya ada tiga poin yang disampaikan Rasulullah pada kesempatan tersebut. . Pertama, pernikahan adalah kuasa Allah. Semua yang ada di jagat raya ini tidak bisa lepas dari kekuasaan dan ketetapan Allah, termasuk pernikahan. Dalam hal pernikahan, Allah telah menetapkan sebuah sistem. Apakah sebuah pernikahan langgeng dan gagal. Jika pasangan suami istri mengikuti sistem yang telah ditetapkan-Nya, maka pernikahan mereka bisa langgeng dan bahagia. Begitu pun sebaliknya. . الذي خلق الخلق بقدرته، ونيرهم بأحكامه . “Dialah yang yang menciptakan makhluk dengan kekuasan-Nya. Dialah yang menerangi jalan manusia dengan ketetapan-ketetapan-Nya,” kata Rasulullah saw. dalam pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah, dikutip dari buku Pengantin Al-Qur’an. . Kedua, sarana memperoleh keturunan. Rasulullah juga menegaskan bahwa pernikahan adalah sarana untuk memperoleh keturunan. Dalam satu hadist, Rasulullah menyeru kepada umatnya untuk menikah dengan perempuan yang subur sehingga dapat melahirkan banyak anak. Yang terpenting bukan hanya memperoleh keturunan atau anak yang banyak saja, tapi juga berusaha membentuk generasi yang berkualitas. Yakni generasi yang beriman, bertakwa, dan berilmu. . إن عز وجل جعل المصاهرة نسبا . “Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia telah menjadikan perkawinan sebagai sarana perolehan keturunan,” sambung Rasulullah saw. . Ketiga, mempererat tali kekerabatan. Salah satu rukun nikah dalam Islam adalah adanya wali, khususnya bagi mempelai perempuan. Dengan demikian, baik secara langsung atau tidak, sesungguhnya pernikahan dalam Islam tidak hanya melibatkan dua individu (mempelai laki-laki dan perempuan) saja, tapi juga keluarga besar dari yang bersangkutan. Setelah ada ikatan pernikahan, biasanya dua keluarga besar memiliki ikatan yang kuat. (Muchlishon)

0

Dikutip dari Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), juz II, hal. 429-430, disebutkan bahwa: “Diperbolehkan bagi ayah atau kakek menikahkan anak perawan tanpa kerelaannya, baik kanak-kanak maupun dewasa sebagaimana hadits riwayat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh, bahwa Nabi bersabda: ‘Janda berhak atas dirinya ketimbang walinya, dan ayah seorang perawan boleh memerintah untuk dirinya’. Hadits ini menunjukkan bahwa wali lebih berhak atas diri seorang perawan. Jika si perawan tersebut sudah dewasa, maka disunnahkan untuk meminta izin padanya, dan izinnya berupa diam, sebagaimana hadits riwayat ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda: ‘Janda lebih berhak bagi dirinya ketimbang walinya, dan perawan memberikan izin untuk dirinya, dengan cara diam’.” Keterangan di atas menunjukkan bahwa ketika seorang perempuan statusnya adalah janda, maka dia harus bersuara untuk dirinya sendiri dalam akad nikah. Ia harus menyampaikan pendapatnya apakah dia bersedia menikah dengan seseorang yang dicalonkan bagi dirinya ataupun tidak. Dalam hal ini, suaranya lah yang paling menentukan kelangsungan akad nikah. Ia diposisikan sebagai pihak yang bisa menentukan nasibnya sendiri. Berbeda halnya dengan perawan. Wali bisa memaksanya untuk menikah dengan lelaki yang baik baginya selama tidak ada bahaya. Muktamar ke-5 NU di Pekalongan pada tanggal 7 September 1930 yang menyinggung soal ini berpendapat bahwa tindakan wali semacam itu adalah makruh alias tidak dianjurkan. Ketika mudarat timbul akibat paksaan tersebut, hukumnya bisa berubah menjadi haram. Tetap disunnahkan untuk menanyakan pendapat si anak perawan tentang rencana pernikahannya, dan jika dia diam, maka hal tersebut menunjukkan persetujuannya. Alasan diamnya perawan dianggap sebagai persetujuan, bisa kita simak pada kelanjutan penuturan Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi: ولأنها تستحي أن تأذن لأبيها فجعل صماتها إذناً “Karena dia (perawan) malu menunjukkan kata izin pada ayahnya, maka dijadikanlah diamnya sebagai bentuk persetujuan.

0
Next »